WWW.BAKIAKBUTUT.CO.CC

Blog personal.

WWW.BAKIAKBUTUT.CO.CC

Blog personal.

WWW.BAKIAKBUTUT.CO.CC

Blog personal.

WWW.BAKIAKBUTUT.CO.CC

Blog personal.

WWW.BAKIAKBUTUT.CO.CC

Blog personal.

WWW.BAKIAKBUTUT.CO.CC

Blog personal.

Thursday, 31 May 2012

Dari "0" menjadi "0+"

Sayap patah terjatuh dalam pusaran nadi, membawa sisa peluh penuh duka diantara  dua dunia dalam  satu meja, dan di  antara satu keinginan dalam kubangan pikiran, aku berdiri menunggu sosok yang akan menjadi peng-akhir dari cerita perjalananku, karena saat-saat aku mencari dan menemukan tak bisa aku miliki, dan tak bisa aku rengkuh, kini setelah sekian lama itu lahir dan datang kembali aku datang menghampiri  membuat lembaran cerita yang terasa seakan seperti pertama, berjalan beriringan di hiasi bunga cerita dunia tentang mimpi yang sama bahwa aku punya satu tujuan dan kenginan yang sama bentuk dan jenis untuk di jadikan satu ukuran kisah roman-roman dunia percintaan.
Tuhan tidak pernah tertidur seperti dalam firmannya, karen Tuhan melihat tentang seberapa jauh aku melangkah dan seberapa kuat harapanku, serta seberapa tegapnya aku berdiri menengadah ke atas mengacuhkan sindiran-sindiran di antara kaki yang sedang mengayun berjalan ke arah yang pasti.
Sayap patah telah kembali tumbuh seiring cerita kembalinya dia pada diri ini, karena dunia yang dulu suram telah di sinarkan oleh kata sapa menjadi sebuah berita tentang adanya cinta dari dirinya, oh dunia haru biru, dulu aku membisu melihat dirinya dalam pesta yang membuat mata tergenang oleh meluapnya lautan kesedihan, kegelisahan dan kebimbangan, karena satu cerita yang mulai terbina harus hancur seketika oleh lembaran-lembran kabar tentang adanya sebuah kemewahan meriahnya pesta satu hari yang sudah pasti akan mengugurkan mimpi-mimpi. 
Satu hari berlalu membuat deretan bunga-bunga mawar di halaman rumahku terbawa hitam seperti hitamnya suasana hatiku waktu itu, dunia seakan terbanjiri air yang mendidih karena panas yang membara yang tergugah oleh rindu yang berserakan dan hancur berantakan, oh Tuhan dunia dan raja para manusia tentu jika kau ijinkan hati ini melukiskan tentu kuasamu terasa sangat istimewa karena sesuatu yang tak mampu di bendung akan terlihat olehnya bahwa dunia yang kumiliki pada masanya serasa getir dan menyesakkan dada, membutakan dan mengikhlaskan di antara kedunya tentulah saling bertentangan, dan butuh perenungan serta pengingkaran akan kehendakmu, serta butuh waktu pula bagiku hingga hari ini untuk lepas dari bayang-bayang masa itu, waktu yang begitu sulit benak ini untuk menghapus rasa pilu yang sudah seperti keras membatu.

Thursday, 15 March 2012

Bisu dan Tawa


Wahai penunjuk arah akhir ceritaku
tunjukan aku bahwa biduku adalah dirimu
untuk yang pertama dan terakhir 
dimana aku hidup seorang diri 
yang sedang dan akan mencari ketenangan hati
kelak di hari ini dan akhir masaku


Wahai dunia tempat sandaraku
tetap diam dan jangan berhenti
untuk bersikap seperti apa adanya
karena yang di depan belum tentu seperti kenyataanya


Wahai gadis yang menjadi penyampai
curahan hati ini, tetap yakinkan bahwa dunia takan tenggelam
oleh mereka yang mengingkari adanya dunia karena takdir ilahi


Wahai peneduh amarah jiwa
sabarkan, dengarkan dan rasakan 
ada yang sedang bernyanyi kesana kemari 
mencari pelindung untuk kepuasan sesaat
padahal kelak dirinya akan tersesat

Friday, 2 March 2012

Di Antara Dilema dan Hujatan

EPILOG ANAK DAN SOSIAL MASYARAKAT
Oleh : anunkasepapsundan

Ketika sebagian orang berkoar tentang HAM dan eksploitasi anak, mari sejenak kita merenungi bahwa tidak semua orang hidup di atas kemurahan rejeki dari Tuhan dan tidak semua orang hidup dalam bergelimpangan harta atau paling tidak hidup dengan sebuah keadaan yang cukup berada, hari ini aku melihat sebuah cerita yang tayang ditelevisi swasta, aku inisialkan TV tersebut adalah “TT”, pada tayangan yang tayang hari Senin tanggal 27 Februari 2012 jam 17:30, dan dalam tayangan yang berlokasi di Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat, seorang anak bernama “Andri yang harus bergelut dengan dunia yang tak sepantasnya bagi seorang anak di bawah usia 20 tahun, katakanlah usia anak itu masih 10 tahun, bagaimana dia haru bekerja menghidupi seorang ibu dan adiknya, dengan bekerja sebagai tukang memasak dan sekaligus sebagai pembantu kepada seorang juragan ikan, seorang anak yang memang sangat jarang bagi seusianya untuk bekerja, memang masih banyak andri-andri yang lain yang bahkan usia nya lebih muda, bahkan pada sebuah acara berita di statisun tv swasta lainya yang aku lihat, di sulawesi seorang anak perempuan yang usianya di bawah 10 tahun harus hidup berdua dengan ibunya yang sakit-sakitan, miris dan terharu rasanya seorang anak perempuan harus hidup dalam kepayahan dimana sang ibu sakit dan dia tanpa henti melayani ibunya yang kesakitan, sang anak perempuan itu memasakan dan memandikan bahkan menyuapi lebih dari itu dia mencari uang untuk biaya hidup sehari-hari, bahkan terkadang berharap belas kasian dari para tetangganya, untunglah jiwa sosial dari sebagian masyarakat yang berada persis dekat rumah seorang gadis kecil tersebut masih terpelihara, sungguh ironi rasanya di tengah ramainya perbincangan nasional dan internasional tentang pelarangan pekerja anak dan ekspolitasi anak.

Kembali ke bahasan seorang anak, seorang anak prempuan dari sulawesi ini tidak tahu bahwa usianya adalah usia bermain dan belajar, yang dia tahu adalah bagaimana sang ibu tersayang bisa tetap hidup dan berharap adannya kesembuhan walau pada kenyataanya untuk membawa ibunya kerumah sakitpun tidak ada karena bagi seorang anak kecil perempuan dari sulawesi itu dengan polosnya berfikir adalah yang terpenting bagaimana hari ini ibunya bisa makan dan bisa tidur nyenyak dan tetap tersenyum padanya.

Namun hari ini penulis  ingin menggambarkan kembali bagaimana seorang anak yang mungkin ada di antara kita harus berkerja demi menghidupi atau bahkan demi membantu orang tuanya, bahkan dengan kerelaan hati tanpa permintaan dari orang tua, seorang anak yang lahir dari keluarga yang serba kekurangan harus bergelut dengan dunia yang cukup ekstrim bagiku, dimana usia yang seharusnya dinikmati dengan masa sebagai anak-anak harus terlwati dengan hiruk pikuknya kesibukan berkerja dengan orang-orang dewasa. Hal ini jelas sangat bertentangan sekali dengan pemaHAMan sebagain orang, yang mengkapnyekan stop eksploitasi anak dan stop pekerja anak, bahkan di belahan dunia manapun dan di kota manapun yang menghendaki dan bahkan melarang adanya pekerja anak di bawah usia yang semestinya,

Iya memang benar, bahwa seorang anak di bawah usia pekerja sangatlah bertentangan dengan nilai HAM dan kebebasan seorang anak itu sendiri, dimana seorang anak juga punya hak untuk bisa merasakan kebebasannya sebagai anak dan menghabiskan waktu untuk bermain dan belajar serta merasakan bangku sekola layaknya anak-anak yang lain, stop pekerja anak dan stop ekspoitasi anak yang sedang di germborkan dan menjadi jargon dalam beberapa media kampanye dengan tema tindak kekersan anak, tentu hal-hal tersbut sebagai penulis sebenarnya sangat setuju sekali bahwa dimanapun dan darimanapun seorang anak, bagi penulis adalah masa indah yang tentu bukan suatu keharusan namun memang sudah menjadi sebuah kewajaran bahwa seorang anak punya hak untuk mersakan dan menikmati masa indahnya, namun kembali lagi bahwa tidak semua manusia di dunia ini seberuntung dan sebahagia bagi orang yang tidak pernah mersakan hidup dalam kesulitan tentu hal di atas dimana cerita anak harus bekrja tanpa di minta atau bahkan orang tua melarang anak bekreja namun sang anak bergeming untuk tetap bekerja demi keluarganya, tidak bisa di terima dan tidak masuk akal, pertanyaanya apakah jika sebuah kelaurga kecil ada di tengah-tengah kita umpama ada seorang sebuah keluarga dimna hanya ada seorang anak dan seornag ibu yang sakit, apakah setiap waktu kepeduliaan dari kita-kita akan ada, kalaupun ada tentu hal ini tidak sambung-menyambung karena jiwa sosial dalam masyarakat sudah mulai rapuh.

Dan adanya cerita kepedulian sesorang pada keadaan tertentu, tidak bisa di ukur apalagi keadaan tersebut berada dalam kultur sosial masyarakat yang cenderung hidup dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat acuh dan saling sibuk dengan urusaan masing, alasan lainya adalah jikalaupun ada kepeduliaan di tengah-tengah masyarakat tentu keadaan sebuah keluarga kecil dan cerita anak menghidupi orang tuanya sangat jarang tersiar dan terkadang jarak antar kehidup masyarakat yang berjauhan satu dengan yang lainnya, serta cara bersosialisasi minim antar masyarakat, sesuatu yang sulit untuk bisa di gambarkan sepenuhnya dan selengkapnya dalam tulisan ini karena kenyatanya sering di antara kita melihat berita dan cerita seorang anak hidup dalam keadaan dilema dan hidup dalam dunia kelam dimana ia harus berjuang di usia yang tidak semestinya dan berjuang demi sebuah kehidupan sambung menyambung untuk tetap hidup dan bertahan hidup di tengah-tengah ketidak pastian.

Dilema ini seperti sebuah cerita yang terkadang bagi sebagian orang sulit untuk diterima, karena pada kenyataanya yang mereka tahu (bagi orang-orang yang tak pernah merasakan hidup dalam kekurangan) sulit untuk di terima dan hal tersebut terkesan ironi, disisi lain ada seorang anak yang bekerja demi membantu orang tua karena alasan ekonomi dan sisi lain  adapula di sebagian masyarakat, bahwa seorang anak bekerja atas dasar eksploitasi demi keuntungan terntentu, kedua-duanya memang sungguh tidak bisa di terima, namun kita cukup sulit untuk mengatakan adanya ekploitasi bagi seorang anak yang berkerja dengan kerelaan hati dengan niat ingin membantu, namun cukup mudah dan jelas untuk mengatakan salah besar untuk alasan kedua dimana anak di ekploitasi demi keuntungan tertentu, walau pada dasarya kedua-duanya tetaplah pada porsi yang memang benar-benar tidak di benarkan, namun begitulah kenyataanya dimana semua itu bersumber yang tak jauh dari alasan ekonomi, sesuatu yang sulit untuk menghindari hal seperti itu jika kita mampu mengatakan untuk hal sederhana ini, maka jawaban dari segalanya adalah perlu adanya kesejahteraan kepada masyarakat harus di tingkatkan dan pemerataan ekonomi terhadap rakyat kecil harus benar-benar di bangun, baik secara makro/mikro, selaian itu jiwa sosialisme pada masyarakat juga harus di galakan agar rasa kepeduliaan itu tetap ada dan berkembang, dilema di atas hujatan yang memang tak jauh dari alasan ekonomi, maka beruntunglah bagi mereka yang tak pernah merasakan hidup seperti andri-andri lainya dan gadis kecil dari sulawesi, satu hal tentunya janganlah terlalu mendiskreditkan sebuah keluarga yang dimna kekurangan dalam ekonomi sebagai alasan menjadi penyebabnya, walaupun semua itu di atas ketidak benaran karena pengabaian akan hak seorang anak, semua perlu solusi yang baik dan tidak saling menyalahkan atau menyudutkan, solusi yang tepat dan cepat dari pemerintah sebagai pengayom dan pelayan masyarkat adalah yang di harapkan selain itu toleransi sikap peduli sesama antar masyarakat mutlak di perlukan, harapan lainnya pemerintah lebih peduli akan hal kecil seperti ini agar tidak terkesan menjadi sebuah isu yang besar ketika media ramai-ramai menggunjingkan tindak kekerasan terhadap anak-anak. Semoga!! 

Saturday, 25 February 2012

Ibu


Dari raut wajah yang makin terlihat
sosokmu adalah jiwa akan kebesaranmu

Karena sabarmu
karena pengorbananmu
dan karena ketulusan yang beribu-ribu yang engkau
berikan padaku sebagai anakmu

Dan dari pandangan masa lalu 
ketika masa sekolah dulu yang kami rindukan
setiap salam dan cium tangan pagi di masa-masa itu
rindukan kami untuk bangkit dan kembali
merasakan masa-masa ada dalam jangkauanmu
masa-masa indah buat kami sekarang setelah menyadarinya
dan dulu membatahnya

Kini jauh berada
masa itu telah terlewat
masa di setiap pagi dan kemanapun setiap hari
cium taangan dan sapa salam yang di tunjukan itu
berubah menjadi seuatu yang berharga
ketika kami sebagai anakmu tepisah
karma waktu,
karena jarak
karena keadaan yang berubah
karena engkau jauh disana
dan aku disini

Ibu maafkan aku
maafkan atas khilaf dan bantahanku
yang termat sudah melebur menjadi dosa-dosa

Engkau terbaik dan selau menjadi yang terbaik
engkau istiemwa dari apa yang ada di hati ini
engkau tetap tempatku bersandar
tepatku menangis dan mencurahkan
tentang apa yang sebenarnya di inginkan dan dicita-citakan
tempatku berbagi dan bercerita tentang harapan di masa depan


Ibu maafkan aku
ku ingin bersandar dalam dekapanmu
mengucpakan kata maaf kepadamu
sebelum aku kehilanganmu
sebelum aku tak bisa lagi melihatmu
sebelum aku tak bisa lagi merangkul tanganmu
dan sebelum aku kehilangan nasihat-nasihatmu
dan sebelum aku kehilangan tegur sapamu
dan sebelum aku kehilangan semua tentangmu

Ibu maafkan aku
atas dosa dan mengingat bantahan demi bantahan kepadamu
kata demi kata dariku yang tak berkenan terhadapmu
terhadap hati dan pikiranmu
mungkin lebih banyak rasa sakit dari kami sebagai anakmu
di banding rasa bangga terhadap kami

Ibu maafkan aku
aku takut ibu, takut,
takut sekali rasa sakit itu lebih besar di banding rasa bahagia karena bangga
kepada kami sebagai anakmu
terlebih kami yang mungkin belum bisa membuatmu bangga
bahkan sesering mungkin membuatmu menangis karena ulahku sebagai anakmu
yang tak pernah mengindahkan akan nasihat dan tegur sapamu

Ibu maafkan aku
sebelum Alloh memanggilmu
yang tak pernah aku tahu dan manusia tahu
ku ingin engkau memaafkan aku
ku ingin bersujud bersimpuh di kakimu
memohon ampun dan maaf darimu
sebelum aku menyesal menangisi kata demi kata 
yang menyesakan dada dan hatimu
sebelum aku kehilangan pandanganku 
tentangmu dan semua tentangmu ...

Harapan


Dalam ceritaku 
ada sebuah perjalanan panjang
tentang bagaimana aku bisa seperti ini 
atau masa di mana seperti sekarang ini

aku masih dan memang buta tentang khidupan yang akan datang,
namun aku masih saja melangkah dan harus melangkah
karna berharap dan bermimpi akan sesuatu yang berarti
bagiku hari ini sampai ku mati,

setelah sekian lama hampir ku lupa akan waktunya
lahirlah kembali satu kisah drama antara aku dan dirinya.

kini cerita itu berlanjut dan menyapaku kembali ...

dan disini, ....
dalam hidupku, 
pernah kutelusuri 1 jiwa yang penuh makna
namun hilang ntah kemana pada waktu itu, 

dan dari sini pula
aku beranjak bangun dari mimpi2ku yang sempat tertunda

    kini mimpi itu telah datang
    dan aku harus siap menyambutnya dengan keceriaan dan ketulusan 

sesuatu yang tertunda, biasanya lebih meyakinkan ...
karna ia datang dengan suatu pengharapan
bukan dengan paksaan atau bahkan belas asa kasihan
bahkan bukan datang kembali untuk memngingkari

"namun"
datang kembali untuk memberi sesuatu hal yang pasti
pasti, pasti dan pasti ...

akan cinta
akan kasih
akan sayang
akan rindu 
dan akan keinginan
yang berbalas
darinya dan dariku....

Masih Yakin

Demi kisah yang aku gemgam dalam perjalan ini
dan demi sebuah mimpi 
yang hampir menjadi bagian dari separuh ceritaku ini
maka bawa aku dalam kenyataan pahit ini
yang cukup sampai pada waktu 
yang sudah terlewati di masa lalu
        
        Aku terlahir dengan perasaan besar untuk kesekian kalinya
        dan aku ada untukmu untuk kedua kalinya
        maka lihatlah diriku yang dengan sabar dan tulus menantikan hadirmu


Ketetapan hatiku sama seperti masa indah itu 
dan aku kini ikrarkan buat mereka tahu 
bahwa aku senantiasa sabar menunggu 
dan agar yang lainpun melihat 
betapa hebatnya aku bertahan dalam keadaan tertekan
sementara cobaanpun datang dengan satu tujuan untuk menggoyakan
        
        Buatmu yang di sana 
        sesampainya aku pad akahir cerita ini suatu saat nanti
        maka akhirlah aku dengan senyum manis darimu
        sebagai tanda dari keinginanku dengan penuh kebesaran jiwamu
        bahwa kau ada untukku selamanya
        dan, akhiri pulalah perjalananku 
        dengan hadirnya dirimu di sampingku suatu saat nanti
        ketika mata ini tak sanggup lagi terbuka 
        untuk melihat indahnya dunia karena adanya dirimu


Buatmu yang di sana 
lihat, dengarkan, dan rasakan 
aku masih sendiri sama seperti dimana aku waktu itu 
dengan perasaan yang tak terbantahkan 
oleh waktu, rongrongan dan hujatan bahkan sindiran dan senyum kecut
dari mereka yang menertawakan dan menghakimiku
         
         Buatmu yang di sana 
         bahwa perjuanganku adalah kerelaan 
         bahwa perjuanganaku adalah keikhlasan
         dan bahwa perjuanganku bukanlah kesia-siaan


Tetapi perjuangan dan impianku adalah sumber pengahrapan 
akan kebahagiaan yang aku ingin rasakan 
denganmu dan denganku
bukan dengan yang lain yang tak ku harapkan

Friday, 1 April 2011

Taman Hijau


Thursday, 10 February 2011

Sebuah Ungkapan

Sebuah ungakapan berisi sajak, puisi, dan curahan ...
:)

Wednesday, 2 February 2011

Westernisasi Lebay

WESTERNISASI VERSUS EASTERNISASI
Oleh : anunkaseppasundan
Perkembangan informasi yang  cepat bahkan terkadang lepas dari kontrol baik oleh negara maupun oleh individu tertentu serta rendahnya pemahaman menjadi awal di mana gaya dan passion style maupun pola pikir masyarakat berubah. Isu Globallisme, Liberallisme, Kapitalisme atau bahkan Sekulerisme, selalu menyatu dalam bingkai Westernisasi di abad modern ini. Penguasaan informasi dan media oleh bangsa barat bukan tidak mungkin membawa pengaruh dari hal yang kecil sampai sekala yang besar. Peradaban yang lemah akan terhapus oleh peradaban yang kuat yang lebih dominan menguasai media. Seperti bangsa atau Negara Amerika dan Negara Eropa lainya yang menguasai hampir 65% media di dunia ini, mereka mampu menciptakan opini hanya dengan 1 hari atau bahkan beberapa jam dengan sebuah media televisi, internet atau bahkan media lainya. Isu Westernisasi terkesan seperti senjata untuk merubah dan menyatukan beberapa budaya atau pandangan menjadi satu kesatuan yang hegemonic untuk menjadi sama, baik dari aspek budaya, politik, hukum, teknologi. Pendidikan bahkan agama.

Apa Itu Westernisasi
Bukan tidak mungkin aku dan sebagian masyarakat lainya : berpendapat sama seperti dalam tulisan ini bahwa Westernisasi adalah pengaruh atau paham yang hendak menjadi budaya baru yang tercipta karena arus informasi atau bahkan tercipta karena sebaran atau tersebar baik itu oleh media elektronik maupun cetak yang datangnya dari bangsa barat, baik secara langsung atau bahkan tersamar. Dan westernisasi mempunyai pengaruh luas  dalam hal apapun, seperti yang tercamtum di atas yaitu :

Budaya, Politik, Hukum, Teknologi. Pendidikan bahkan Bahasa dan Agama

Kepercayaan diri yang rendah dalam suatu bangsa atau Negara, adalah target dimana westernisasi menjadi senjata untuk menyerang setiap kelemahan yang ada. Westernisasi mampu merubah sesuatu yang tabu atau bahkan “masih canggung untuk di ungkap” menjadi sesuatu hal yang biasa, pola pikir setiap individu mampu di rubah hanya dengan berbekal sebuah perangkat media informasi. Di tengah bangsa yang manjemuk westernisasi mampu beradaptasi dan menjelma menciptakan sesuatu seperti budaya yang baru dan kultur baru dalam masyarakat yang terseok dan kalah saing dalam bidang penguasaan media. 

Westerniasi Indonesia
Indonesia adalah Negara terhebat menuruku :  dimana ada berjuta suku dan karakteristik yang berbeda pula di setiap pendudukanya, dan Indonesia adalah negara dengan perkembangan perangkat media tercepat  di antara negara di kawasan Asean lainya. Seperti Jepang yang menerima budaya westernisasi namun tetap mepertahankan nilai2 luhur, karakterisktik dan norma serta berpegang teguh akan warisan budayannya. Sehingga adanya isu westernisasi di jadikan sebagai proteksi dimana negara mau tidak mau harus aktif untuk memberi kesempatan dan membantu sekuat mungkin budaya lokal atau kekuatan asli untuk tetap membumi.

Salah Kaprahnya Westernisasi
Sesuatu yang menyakut tentang kemajuan sering di artikan pula sebagai bagian dari akibat westernisasi, padahal sesungguhnya tidak.!!
Kemajuan tenknologi sering pula di artikan sebagai bagian dari westernisasi padahal sesunggulnya tidak!!!
Menurutku secara “pribadi :
Pada dasarnya kemajuan teknologi adalah tergantung dari kemampuan masing2 setiap bangsa atau negara akan SDM di masyrakatnya. Pengertian yang salah akan westernisasi yang selalu berhubungan dengan kemajuan adalah sesunggunya bohong besar. Karena sesungguhnya suatu negara atau bahkan bangsa lainya bisa menciptakan sesuatu yang lebih baik dan lebih maju dari bangsa barat tanpa harus meniru, dan bahkan berhak akan pengakuan dan legitimasi suatu tentang istilah “kemajuannya” baik dari segi teknologi budaya dan sesuatu yang mencakup gaya hidup. Bahkan sebaliknya jika mampu menguasai peradaban dan menguasai informasi di dunia kita bisa menggerakan paham Easteniasi terhadap budaya barat namun semua itu tergantung dari konsistensi kita dimana kita mau bersama2 bergandengan menguasai teknologi informasi dan sejenisnya. Tidak dapat di pungkiri karena faktor sesungguhnya, adanya penyebaran isu westernisasi adalah media informasi.
Diantara Westernisasi Ada Easternisasi
Masyarakat yang mengaku dirinya berbudaya timur sejatinya harus mampu menjadi masyrakat yang mampu memimpin dan membenamkan dirinya dalam segala aspek kekuatan dan kemajuan dan menjadikan budaya yang ada dan yang telah di pegang teguh untuk tetap mempertahankan ke aslianya dan menjalankan budaya aslinya dalam keseharian serta menjadikan pula budaya atau pengaruh barat sebagai budaya kritis dan penyeimbang bahkan pendorong dan motivasi untuk sebuah keselarasan dan memahami bahwa di samping kita ada budaya yang berbeda tanpa semuanya harus kita ikuti. Bukan dengan mencela dan menghujat dengan pikiran sempit. Apalagi harus dengan isolasi dari kepungan budaya barat.

Westernisasi, sesungguhnya bukanlah budaya “ia” (westernisasi) adalah seperti paham atau pengaruh atau cara keinginan untuk meniru budaya tertentu yang datangnya dari barat dan menjadikannya sebagai penguat ego di tengah perkembangan zaman akan peradaban baru dan menjadikanya “ia” sebagai gaya atau passion baru dalam berkehidupan dan bermasyrakat.

Kita bisa melawan westerniasi dengan Easternisasi yaitu memulai dengan suatu gerakan dimana gerakan tersebut adalah adanya penayadaran akan kesederhanaan hidup namun tetap dengan cara berpandangan maju. Tanpa harus meninggalkan budaya asli kita dan darimana kita berasal. Tidak sepenuhnya westernisasi mengandung unsur kehebatan di balik itu semua ada tempat dan ciri cara pandang yang berbeda karena pengaruh lingkungan dan adata istiadat. Sementara cara mereka yang kita ikuti terkadang tidak sesuai dengan suatu keadaan dan lingkungan di sekitar kita.

Opini pribadi ini tidak bermaksud bahwa penulis berhaluan atau bahkan tunduk terhadap sesuatu yang berhubungan dengan bangsa barat tetapi lebih kepada apa yang ingin di sampaikan bahwa kita  yang merasa berbudaya timur harus bisa menerimanya karena seiring perkembangan dunia, kadang kala budaya memerlukan suatu akulturasi atau percampuran sebagai rasa saling menghargai dan menyeimbangkan yang ada, begitupun yang terjadi di belahan negara barat lainya mereka berlomba melawan budaya timur yang dengan istilah dan santer saat ini di Eropa dan Amerika lainya tentang maraknya arus imigran dan isu islamisasinya serta terkenal pula dengan merebaknya isu Easternisasi yang di bawa oleh orang2 Asia pada umunya yang singgah dan bermukin disana. Mereka (Bangsa barat dan Amerika) melawan dengan Intelktualitas dan tetap dengan toleransi tinggi bukan dengan pandangan sepit atau picik bukan dengan lebaya atau berebihan.

Satu point dimana Westernisasi akan tercipta  bila suatu pemimpin atau bahkan individu masyarakatnya lengah dan tak mampu memfilter budaya barat untuk di ambil mana bagian dari yang positif dan mana dari bagian yang negative. Dan kuatnya penguasaan media oleh bangsa2 barat tanpa kontrol atau bahkan kesadaran dari masyrakatnya kadang begitu kuat pengaruhnya. Bahasa, gaya berpakaian dan cara berfikir dan pandangsn nyeleneh bahkan memutarbalikan fakta serta menjadikan sesuatu yang sebenarnya “benar” menjadi sesuatu yang di anggap “salah” dan sesuatu yang sebebarnya “salah” menjadi sesuatu yang di anggap “benar”. Itulah pembiasan salah dan pemahaman yang salah kaprah  dimana sebagian dari kita tidak memahami subtansi arti pengaruh dan pesan yang ingin di sampaikan oleh bangsa barat.

Bangsa yang unggul dan percaya akan kemampuan masyarakatnya mampu membedakan mana bagian dari westernisasi dan mana dari akulturasi.

By : daripenulisuntukberbagi

Recent Readers